Keterlambatan bicara (speech delay) merupakan salah satu gangguan perkembangan yang banyak ditemukan pada anak usia dini. Secara global, prevalensinya diperkirakan antara 2%–20%, dengan angka rata-rata sekitar 6% pada anak usia 2–5 tahun (McLaughlin, 2023). Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan komunikasi, interaksi sosial, prestasi akademik, serta perkembangan emosional anak di masa depan. Menariknya, data menunjukkan bahwa kasus speech delay meningkat signifikan pascapandemi COVID-19, di mana keterbatasan interaksi tatap muka membuat anak lebih sering terpapar media digital (Baron et al., 2023). Di Indonesia, prevalensi keterlambatan bicara dan bahasa pada anak usia prasekolah diperkirakan mencapai 5–10% (Suhadi, 2019; Kementerian Kesehatan RI, 2022). Bahkan, jumlah anak usia 0–4 tahun dengan gangguan bicara dilaporkan sekitar 1,3 juta jiwa (Pratiwi & Lestari, 2021). Tingginya angka ini menunjukkan bahwa speech delay menjadi salah satu masalah perkembangan anak yang perlu mendapat perhatian serius.






Ulasan
Belum ada ulasan.