‘Ulumul Hadits

Rasul SAW tampil di tengah-tengah para sahabat sebagai figur sentral dan tokoh idola yang sangat dihormati. Segala titahnya jika berupa anjuran  atau perintah segera ditunaikan dan jika berupa larangan akan ditinggalkan. Semua tindak-tanduk dan gerak-geriknya sampai pada hal-hal terkecil sekalipun menjadi sunnah yang diteladani.
Kesungguhan untuk meniru dan meneladani sifat mulia Rasul SAW menyebabkan para sahabat selalu menghadiri majelis–majelisnya guna mendengarkan petuah-petuah agama. Bagi mereka yang tinggal jauh dari Kota Madinah selalu mengutus salah seorang kabilahnya untuk mendatangi Rasul SAW dan belajar hukum-hukum agama. Ketika pulang ke kampungnya, ia segera menyampaikan apa yang telah didengarnya dari Rasul SAW. Kesibukan duniawi tidak menyebabkan para sahabat absen ke majelis Rasul SAW. Mereka menyiasatinya dengan cara bergilir dan saling tukar informasi keagamaan yang didapat dari Rasul SAW, sebagaimana yang diceritakan Umar ibn al-Khattab berikut ini:
“ Aku dan tetanggaku dari Ansar tinggal di kampung Umayyah ibn Zaid di pinggir Kota Madinah. Kami datang secara bergantian kepada Rasulullah SAW. Hari ini tetanggaku yang mengunjungi beliau, hari berikutnya aku yang pergi. Jika aku yang datang, maka aku akan menyampaikan kepada tetanggaku segala yang aku dapat dari Rasulullah SAW. Demikian pula jika ia yang pergi, ia akan melakukan hal yang sama “.  (H.R. Al-Bukhari )

 

Judul:
‘ULUMUL HADITS
Penulis:
Dr. Muhammad Zaki, M.Ag.
Editor:
___
Penerbit:
Aura (Anugrah Utama Raharja) Anggota IKAPI
Tahun Terbit:
 Juli 2017
Ukuran Buku
15,5 x 23 cm
Jumlah Halaman:
xii + 145
ISBN:
978-602-6739-15-5
Harga:
Rp.

SUPERVISI PENDIDIKAN

“Upaya Melejitkan Kualitas Pembelajaran Guru dan Kinerja Kepada Sekolah/Madrasah”

Supervisi pendidikan atau yang lebih dikenal dengan pengawasan pendidikan memiliki konsep dasar yang saling berhubungan. Dalam konsep dasar supervisi pendidikan dijelaskan beberapa dasar-dasar tentang konsep supervisi pendidikan itu sendiri. Pendidikan berbeda dengan mengajar, pendidikan adalah suatu proses pendewasaan yang dilakukan oleh seorang pendidik kepada peserta didik dengan memberikan stimulus positif yang mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan pengajaran hanya mencakup kognitif saja artinya pengajaran adalah suatu proses pentransferan ilmu pengetahuan tanpa membentuk sikap dan kreatifitas peserta didik.
Oleh karena itu, pendidikan haruslah diawasi atau disupervisi oleh supervisor yang dapat disebut sebagai kepala sekolah/madrasah dan pengawas lain yang ada di Kementerian pendidikan atau kementerian agama. Pengawasan di sini adalah pengawasan yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja para pendidik dan pegawai sekolah/madrasah lainnya dengan cara memberikan pengarahan-pengarahan yang baik dan bimbingan serta masukan tentang cara atau metode mendidik yang baik dan professional. . Dalam buku ini akan kami paparkan beberapa konsep dasar tentang supervisi pendidikan beserta sub-sub penjelasannya

Judul:
SUPERVISI PENDIDIKAN
“Upaya Melejitkan Kualitas Pembelajaran Guru dan Kinerja Kepada Sekolah/Madrasah”
Penulis:
 Dr. H. Alamsyah, M.Pd.
Editor:
___
Penerbit:
Aura (Anugrah Utama Raharja) Anggota IKAPI
Tahun Terbit:
 Juli 2017
Ukuran Buku
15,5 x 23 cm
Jumlah Halaman:
xii + 145
ISBN:
Harga:
Rp.

Teori Pembelajaran Dan Pengembangan Bahan Ajar Dalam Pendidikan

PENGERTIAN BELAJAR, CIRI-CIRI BELAJAR DAN MENGAPA BELAJAR

Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup. Sejak masih bayi (bahkan dalam kandungan) hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik) maupun yang menyangkut nilai  dan sikap (afektif). Kalau sebelmnya Pandu tidak tahu nama dan letak ibukota Provinsi Banten dan sekarang sebagai siswa SD, dia dapat menyebutkan nama dan menunjukkan letak ibukota Provinsi tersebut maka kita katakan siswa SD itu sudah belajar. Begitu pula halnya kalau dia sebelumnya tak dapat menulis angka 1 s/d 10 dan sekarang dapat menuliskan dengan lancar, baik, dan benar. Begitu pula Mima, sebelum kursus komputer, dia tak dapat mengoprasikan  komputer, sekarang dengan lancar dan mahir dia dapat menggunakannya. Atau si Koko, dulu dia tidak tahu siapa R.A. Kartini, sekarang dia tahu dan sangat menghargai perjuangan serta jasa-jasanya. Koko telah belajar karena ada perubahan baik dalam pengetahuan maupun sikapnya.

Berikut ini beberapa perspektif para ahli tentang pengertian belajar. Dalam Guidance of Learning Activity W.H. Burton (1984) mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan individu dengan lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Sementara Emest R. Hilgard dalam Instruction to Phsychology mendefinisikan belajar sebagai suatu perubahan kegiatan, reaksi terhadap lingkungan.

H.C Witherington dalam Educational pshychology menjelaskan pengertian belajar sebagai suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dan reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian. Gagne Berlinger mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman.

Harold Spears mengemukakan pengeryia belajar dalam perspektifnya yang lebih detail. Menurut Spears learning is to observe, to read, to imitate, to try something them selves, to listen to follow direction (belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu pada dirinya sendiri, mendengar dan mengikuti aturan). Sementara Singer (1968) mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif tetap yang disebabkan praktek atau pengalaman yang sampai pada saat situasi tertentu. Gagne (1977) pernah mengemukakan perspektifnya tentang belajar. Salah satu definisi belajar yang cukup simpel namun mudah diingat adalah yang dikemukakan oleh Gagne:” Learning is relatively permanent change in behaviour that result from pas experience or purposeful instruction. Balajar adalah suatu masa lalu ataupun dari pembelajaran yang bertujuan/direncanakan. Pengalaman diperoleh individu dalam interaksinya dengan lingkungan, baik yang tidak direncanakan maupun yang direncanakan, sehingga menghasilkan perubahan yang bersifat relatif menetap.

Belajar adalah sebuah proses yang kompleks yang didalamnya terkndung beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut adalah:

  • Bertambahnya jumlah pengetahuan,
  • Adanya kemampuan mengingat dan mereproduksi,
  • Ada penerapan pengetahuan,
  • Menyimpulkan makna,
  • Menafsirkan dan mengkaitkannya dengan realitas dan
  • Adanya perubahan sebagai priadi

Dari berbagai perspektif, pengertian belajar sebagaimana dijelaskan diatas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental (psikis) yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkunganya yang menghasilkan perubahan yang bersifat relatif kontan. Ada sebagian kalangan mempertanyakan jika elajar ada korelasinya dengan bahan, lalu apakah semua jenis perubahan adalah hasil belajar? Tentu saja tidak.

Semua perubahan tingkah laku dapat kita sebut belajar. Iwan si pendiam, sejam yang lalu ajak teman-temannya masuk ke sebuah rumah makan. Sekarang dia keluar dengan banyak bicara, tertawa-tawa berceloteh tak karuan dan gontai jalannya. Perubahan tingkah laku siswa kelas III SMA tersebut bukan karena proses belajar, tetapi akibat minuman keras yang mengganggu syaraf pengontrol kesadarannya atau sebaliknya Tati yang ceria itu tiba-tiba menjadi pendiam dan pemurung karena penyakit yang dideritannya, perunahan tingkah laku ini bukan pula karena proses belajar. Begitu pula dengan Achmad yang menginjak remaja, tia-tia suaranya menjadi bertambah berat. Perubahan ini bukan pula karena proses belajar tetapi karena proses pertumbuhan fisik.

Kalau kita simpulkan, seseorang telah belajar kalau terdapat perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat interaksi dengan lingkungannya, tidak karena pertumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan. Kecuali itu perubahan tersebut haruslah bersifat relative permanen, tahan lama, dan menetap, tidak erlangsung sesaat saja.

Lihat File PDF

 

Page 4 of 26« Pertama...3456...Terakhir »